Diceritakan bahwa setelah Siti Zulaiha beriman dan menikah dengan nabi Yusuf As. dia menyendiri dan menyepi krna bribadah kpada Allah. stelah selesai bribadah, siangnya nabi Yusuf mengajak keranjangnya. lalu Zulaiha menghampiri Ysuuf pada malamnya.
Ktika Zulaiha di ajak pada malamnya, maka dia melambatkan sampai singnya.
Berkatalah Zulaiha: 'Ya Yusuf, Aku mencintaimu sbelum aku mengenal Allah. ketika aku mengenal Allah maka cintaku kepada-Nya tidak bisa menetapkan cinta kpad selain-Nya, dan aku tdk ingin cintaku pada-Nya tergantikan (trmsuk oleh mu).
Sehingga brkata sang nabi kpda Zulaiha: "Sungguh Allah - yg agung dengan sbutan-Nya memerintahkanku hal trsbt (nikah & jimak) dan mengabarkanku bhwa kau akan melahirkan dua seorang anak yang akan menjadi nabi", Zulaiha pun brkata: "Jika memang Allah memerintahkan hal itu dn menjadikanku sbagai jalan darinya maka aku akan taat pda perintah Allah", kemudian terdiamlah Zulaiha.
(Di sarikan dari Fawaidul Mukhtar )
Senin, 27 Juni 2016
Rindu Yang Tak Tertunaikan
Singkat cerita...
Di masa silam yang entah berapa ratus tahun lamanya hiduplah seorang pemuda dari kelurga miskin yang bernamakan Kais Al qorni dan seorang perempuan keturunan darah biru, Laila.
Keduanya saling menyimpan cinta yang begitu dalam, namun karena sudah lama sekali tidak bertemu, sehingga Laila pun sakit karena tidak kuat menahan rindu yang tak tertunaikan, sampai pada akhirnya dia meninggalkan Kais dan dunia ini.
Setelah Laila di kebumikan, Kais mendekap di atas nisan Laila, entah berapa tahun lamanya sampai kais tinggal tulang belulangnya.
Banyak pelajaran dari kisah ini
Diantaranya : Seseorang yang sakit sampai meninggal dunia karena di sebabkan cinta yang begitu dalam menyebabkan seseorang tetsebut mati syahid...
Bisa di katakan mati sahid jika memenuhi dua syarat :
Cintanya di pendam tidak di ceritakan ke orang lain, dan bila berduaan tidak sampai melakukan yang dilarang syareat.... Wallahu a'lam bis showaf
Kisah Syyidina Ali Dan Sayyidatul Fatimah Az Zahro Yang Seperti Aliran Dua Sungai Yang Kembali Bersatu Di Lautan
Ada rahasia terdalam di hati Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.
Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn 'Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka'bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!
Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu
"Allah mengujiku rupanya", begitu batin ’Ali.
Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakar. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakar lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti 'Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakar menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara 'Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakar; 'Utsman, 'Abdurrahman ibn 'Auf, Thalhah, Zubair, Sa'd ibn Abi Waqqash, Mush'ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti 'Ali.
Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakar; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, 'Abdullah ibn Mas'ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan 'Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakar sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.
'Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. "Inilah persaudaraan dan cinta", gumam 'Ali.
"Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku."
Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan
Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.
Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.
'Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. 'Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah 'Ali dan Abu Bakar. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyaksikan semua pembelaan dahsyat yang hanya 'Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, 'Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, "Aku datang bersama Abu Bakar dan 'Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan 'Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan 'Umar.."
Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana 'Umar melakukannya. 'Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.
'Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka'bah. "Wahai Quraisy", katanya. "Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang 'Umar di balik bukit ini!" 'Umar adalah lelaki pemberani. 'Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. 'Umar jauh lebih layak. Dan 'Ali ridha.
Cinta tak pernah meminta untuk menanti
Ia mengambil kesempatan
Itulah keberanian
Atau mempersilakan
Yang ini pengorbanan
Maka 'Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran 'Umar juga ditolak.
Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti 'Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi'kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.
Di antara Muhajirin hanya 'Abdurrahman ibn 'Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa'd ibn Mu'adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn 'Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?
"Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?", kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. "Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. "
"Aku?", tanyanya tak yakin.
"Ya. Engkau wahai saudaraku!"
"Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?"
"Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!"
'Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.
"Engkau pemuda sejati wahai 'Ali!", begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, "Ahlan wa sahlan!" Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.
Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.
"Bagaimana jawaban Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?"
"Entahlah.."
"Apa maksudmu?"
"Menurut kalian apakah 'Ahlan wa Sahlan' berarti sebuah jawaban!"
"Dasar tolol! Tolol!", kata mereka,
"Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !"
Dan 'Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.
Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, 'Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
'Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, "Laa fatan illa 'Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!" Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti 'Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.
Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada 'Ali, "Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda"
'Ali terkejut dan berkata, "kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?"
Sambil tersenyum Fathimah berkata, "Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu" ini merupakan sisi ROMANTIS dari hubungan mereka berdua.
Kemudian Nabi saw bersabda: "Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut."
Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:
"Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak."
Di sadur dari kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4. By: Abdurrohman
Jumat, 24 Juni 2016
Kisah Keajaiban Nabi Musa Di Waktu Kecil
Ketika sudah berumur sembilan tahun Musa kecil duduk bersama fira'un di atas ranjang, lalu firaun mencubitnya sehingga Musa kecil turun dari ranjang lantas marah dan menendang tiang penyangga ranjang, maka membuat tiang-tiang penyangga tersebut roboh, akhirnya Fira'un jatuh dan hidungnya mengeluarkan darah yang mengalir hingga pada wajahnya, kemudian Fira'un hendak membunuh Musa kecil, lalu berkatalah siti Asiyah, "Apakah kamu tidak senang mempunyai anak yang kuat dan bisa melindungimu dari musuh-musuhmu?" Maka redahlah amarah Fira'un.
By: Badaaiu' Az-zuhuur
Kamis, 23 Juni 2016
Dalam Kesendirianku
Kesendirian ini mengajarkanku arti sebuah kesabaran, banyak hal yang ku dapatkan dari kisah ini. Kesendirian itu kejam seprti maut, aku sendiri tak lebih seperti bunga mawar yang tumbuh di balik tingginya batu karang, seakan akan kehidupan tak pernah di rasakan dalam keberadaanku.
Aku tak suka hidup dalam kesendirian dan kesepian, hanya ku dengar gema dari pikiranku sendiri, terpuruk dari seluruh dunia, dan tenggelam dalam obsesi serta kenangan.
Namun pada suatu hari hadirlah seseorang yang ku kagumi senyumnya, merasa kehadirannya sungguh berarti bagiku, dan selalu memikirkannya walau dalam diam aku merasa bosan dengan semua ini.
Aku tidak tahu apakah dia yang terahir untukku??... Biarlah masalah jodoh tetap menjadi suratan takdir yang terbungkus rapi dalam misteri ilahi.
Demi menunggu yang halal sampai waktu yang telah di tentukan, jarak dekat meruapakan ujian keimanan, dan jarak jauh adalah ujian kesabaran.
By: Siti Hilmy
Rabu, 22 Juni 2016
Cinta Dalam Diam Mampu Menjaga Dua Insan
Wahai diriku, dirimu, dan dirinya...
Jika engkau belum siap melangkah dengan seseorang, cukup cintai ia dalam diam.
Karena diammu adalah bukti cintamu padanya. Dengan begitulah engkau memuliakan dirinya karena engkau tak mengajaknya menjalani hubungan yang terlarang, juga tak merusak kesucian dan penjagaan hatinya, dari diammu sungguh engkau telah memuliakan dirinya, dan dirimu juga akan terjaga.
Sebagaimana sayyidatul Fatimah Az Zahro dan sayyidina Ali bin Abi Thalib yang diam dalam cinta, namun pada akhirnya mereka di jodohkan oleh Allah dan bersanding dalam pernikahan atau pelaminan ?!?
By: Abdurrahman
Senin, 20 Juni 2016
Tenggelam di Lautan Dunia
Orang yang tenggelam di lautan
air pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa selamat, namun orang yang tenggelam di lautan dunia ??...
Semakin tenggelam semakin terasa nikmat, sampai tanah masuk kedalam mulut dan matanya....
Seseorang yang tenggelam di lautan, maka tiadak mungkin untuk mengeluarkan air yang di dalam perutnya. Semestinya orang tersebut di kelurkan dahulu dari dalam laut
baru air di dalam perutnya bisa di keluarkan...
Nah, begitu juga orang yang dirinya tenggelam dalam cinta dunia,
Maka perlu hijrah pindah keluar kampung halaman meninggalkan masa
jahiliahnya, supaya bisa merubah dirinya menjadi pribadi yang lebih baik di lingkungan yang berbeda....
By: Mansyur Al Makasari
Rabu, 08 Juni 2016
Tangisan Para Pendosa
Jikalau kita tak bisa bersaing dalam ibadah dengan para sholihin, jangan kuatir kita masih di beri kesempatan berlomba dalam istigfar dengan para pendosa....
Sebagai orang yang masih muda ternyata kami yang faqir ini tak bisa lepas dari dunia asmara dan lika - likunya, namun kami sadar bahwa patah hati tak perlu di tangisi, bisa jadi apa yang kita tangisi adalah hal yang kita syukuri suatu hari nanti....
Menangis karena putus cinta belum tentu bisa menyelamatkan seseorang
dari azab neraka, namun jikalau menangis karena banyak dosa maka bisa menyelamatkan seseorang dari azab neraka.... Wallahu a`llam
Sebagai orang yang masih muda ternyata kami yang faqir ini tak bisa lepas dari dunia asmara dan lika - likunya, namun kami sadar bahwa patah hati tak perlu di tangisi, bisa jadi apa yang kita tangisi adalah hal yang kita syukuri suatu hari nanti....
Menangis karena putus cinta belum tentu bisa menyelamatkan seseorang
dari azab neraka, namun jikalau menangis karena banyak dosa maka bisa menyelamatkan seseorang dari azab neraka.... Wallahu a`llam
Langganan:
Komentar (Atom)






